JAKARTA – Mudik tidak hanya sebatas kebiasaan setiap tahun menjelang Hari Raya Idulfitri. Bukan sekadar tradisi budaya untuk menyambung tali silaturahmi, tetapi juga menggerakkan ekonomi secara signifikan karena adanya pergerakan jutaan orang dari kota besar ke daerah.
Diperkirakan, sekitar 143,91 juta orang atau 50,60 persen penduduk Indonesia akan berpergian pada momen mudik Lebaran 2026 ini. Dengan jumlah yang sangat besar ini, kebutuhan konsumtif akan melonjak dan aktivitas ekonomi menggeliat dari kota besar hingga ke desa-desa di pelosok negeri.
Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan menilai transformasi ekonomi ini membuat moda transportasi mengalami peningkatan signifikan. “Jadi mudik tidak hanya dapat dipahami sebagai tradisi budaya, tetapi juga tradisi sosial ekonomi,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Momen mudik menciptakan perputaran uang dalam jumlah sangat besar. Tentu saja dapat memicu aktivitas perdagangan, menggerakkan sektor ril, baik bagi pariwisata maupun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Menurut Buya Amirsyah, pergerakan jutaan orang dari kota besar ke daerah-daerah dapat menciptakan efek domino yang sangat luas. Apalagi, jika aktivitas tersebut tidak hanya sementara, tetapi bisa berkelanjutan.
Pada mudik 2025 terdapat 146, 48 juta orang atau sekitar 52% dari total pendudik Indonesia. Sementara tahun 2024, lebih besar mencapai 193,6 juta pemudik, tetapi tetap menunjukkan besarnya mobilitas masyarakat saat lebaran.
Buya Amirsyah mengatakan, mudik menjadi momen ketika uang mengalami transformasi ke daerah asal pekerja urban. Sekitar 60 persen perputaran uang mudik terjadi di Pulau Jawa karena mayoritas pemudik berasal dari wilayah tersebut.
“Dalam perspektif ekonomi regional, fenomena ini dapat dipandang sebagai transformasi ekonomi pusat ke daerah,” katanya. ***






