syiarislam.com – Pernikahan dalam Islam bukan sekadar ikatan sosial, melainkan perjanjian yang kokoh (mitsaqan ghalizha) antara suami dan istri di hadapan Allah SWT. Karena itu, segala bentuk pengkhianatan terhadap ikatan pernikahan, termasuk perselingkuhan fisik maupun perselingkuhan digital seperti cyber affair dan sexting, merupakan perbuatan yang sangat dilarang.
Di era media sosial dan aplikasi pesan instan, bentuk perselingkuhan tidak lagi selalu diawali dengan pertemuan fisik. Hubungan emosional yang terjalin secara rahasia melalui percakapan pribadi, pertukaran foto intim, hingga komunikasi bernuansa seksual dengan lawan jenis yang bukan pasangan sah juga menjadi pintu menuju dosa yang lebih besar.
Pernikahan Adalah Janji Suci yang Harus Dijaga
Allah SWT menggambarkan akad nikah sebagai perjanjian yang kuat dan agung.
“Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizha).”
(QS. An-Nisa: 21)
Menurut para ulama, ayat ini menunjukkan bahwa suami dan istri memiliki kewajiban menjaga amanah, kesetiaan, kehormatan, dan kepercayaan dalam rumah tangga.
Ketika seorang perempuan yang telah menikah menjalin hubungan asmara dengan pria lain, baik secara langsung maupun melalui media digital, maka ia telah melanggar amanah tersebut.
Islam Melarang Mendekati Zina
Salah satu ayat yang paling sering dijadikan dasar larangan perselingkuhan adalah firman Allah SWT:
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra: 32)
Ayat ini tidak hanya melarang zina sebagai hubungan seksual di luar nikah, tetapi juga segala jalan yang mengarah kepadanya.
Para ulama menjelaskan bahwa berkirim pesan mesra, saling mengungkapkan perasaan cinta dengan lawan jenis yang bukan pasangan sah, bertukar foto sensual, hingga melakukan video call bernuansa seksual termasuk perilaku yang mendekatkan diri kepada zina.
Cyber Affair dan Sexting: Bentuk Perselingkuhan Modern
Dalam kajian keluarga Islam kontemporer, cyber affair dipahami sebagai hubungan emosional atau romantis yang dilakukan secara rahasia melalui internet dengan orang lain selain pasangan sah.
Sementara sexting adalah aktivitas mengirim pesan, foto, video, atau percakapan yang mengandung unsur seksual melalui media digital.
Meski tidak selalu berujung pada pertemuan fisik, para ahli fikih dan konselor keluarga Muslim menilai perilaku tersebut tetap termasuk pengkhianatan terhadap pasangan karena melibatkan hati, perasaan, dan syahwat yang seharusnya hanya diberikan kepada pasangan yang halal.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian zina bagi setiap anak Adam, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah melangkah, sedangkan hati berkeinginan dan berangan-angan.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa dosa yang berkaitan dengan zina tidak hanya terjadi melalui hubungan badan, tetapi juga melalui pandangan, ucapan, percakapan, dan hasrat yang dipelihara.
Mengkhianati Amanah dan Kepercayaan Suami
Perselingkuhan juga termasuk bentuk khianat terhadap amanah.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu.”
(QS. Al-Anfal: 27)
Dalam kehidupan rumah tangga, kepercayaan merupakan salah satu amanah terbesar. Ketika seorang istri diam-diam menjalin hubungan dengan pria lain, menyembunyikan percakapan intim, atau menghapus jejak komunikasi agar tidak diketahui suami, maka unsur pengkhianatan tersebut semakin nyata.
Dampak di Dunia: Rumah Tangga Hancur dan Hilangnya Kepercayaan
Para konselor keluarga Islam menyebut perselingkuhan sebagai salah satu penyebab utama keretakan rumah tangga.
Konsekuensinya dapat berupa:
- Hilangnya kepercayaan pasangan.
- Konflik berkepanjangan dalam keluarga.
- Perceraian.
- Trauma psikologis bagi suami.
- Dampak emosional bagi anak-anak.
- Hilangnya kehormatan dan reputasi di lingkungan sosial.
Tidak sedikit keluarga yang sebelumnya harmonis berakhir hancur karena hubungan yang awalnya hanya berupa percakapan rahasia di media sosial.
Ancaman di Akhirat bagi Pelaku Perselingkuhan
Dalam Islam, dosa perselingkuhan yang mengarah pada zina termasuk dosa besar yang memerlukan taubat sungguh-sungguh.
Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain bersama Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa melakukan demikian, niscaya dia mendapat hukuman.”
(QS. Al-Furqan: 68)
Para ulama menjelaskan bahwa pelaku maksiat yang tidak bertaubat berisiko mendapatkan azab sesuai kehendak Allah SWT. Namun Islam juga membuka pintu taubat seluas-luasnya.
Pada ayat berikutnya Allah berfirman:
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.”
(QS. Al-Furqan: 70)
Karena itu, siapa pun yang pernah terjerumus dalam perselingkuhan, baik fisik maupun digital, tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.
Azab Bagi Istri yang Selingkuh
Dirangkum dari buku “Merajut Kebahagian Keluarga” karya Dr. Budi Sunarso, Islam telah menegaskan azab istri yang selingkuh di dunia dan akhirat sebagai berikut ini:
1. Allah SWT tidak akan mengajak bicara saat hari kiamat
Rasulullah SAW bersabda, “Tiga orang yang tidak akan diajak berbicara oleh Allah pada hari kiamat dan tidak akan dilihat serta disucikan, pun bagi mereka azab yang pedih; seorang tua yang berzina, raja yang pendusta, dan orang miskin yang congkak.” (HR. Muslim, An-Nasa’i, dan Ibnu Mandah dari Abu Hurairah).
2. Tidak ada keberkahan rezeki dalam hidup
Azab dunia bagi orang yang berselingkuh adalah akan sulit mendapatkan keberkahan rezeki. Pelakunya mungkin hidup tidak tenang dan dihadapkan dengan banyak cobaan, seperti mempunyai karier yang bagus, tapi selalu sakit-sakitan. Ini merupakan hukuman di dunia karena telah berzina dan mengkhianati pasangannya.
3. Dijilat api neraka
Pelaku zina akan dijilat oleh api neraka kelak. Azab ini terdapat dalam hadis Bukhari dan Muslim. Dalam hadis itu disebutkan bahwa Rasulullah didatangi oleh malaikat Jibril dan Mikail. Beliau berkisah,
“Kami berangkat pergi sehingga sampai di suatu tempat bagian atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya luas. Dari situ terdengar suara gaduh dan ribut-ribut. Kami menengoknya, ternyata di situ banyak laki-laki dan perempuan telanjang. Jika mereka dijilat api yang ada di bawahnya, mereka melolong oleh panasnya yang dahsyat. Aku bertanya, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah para pezina perempuan dan laki-laki. Itulah azab bagi mereka sampai tibanya hari kiamat.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani, dan Ahmad).
Taubat dan Menutup Semua Pintu Perselingkuhan
Para ulama menjelaskan bahwa taubat yang benar mencakup:
- Menghentikan seluruh hubungan terlarang.
- Menyesali perbuatan yang telah dilakukan, tanpa menyalahkan pihak lain.
- Bertekad kuat tidak mengulanginya.
- Memperbanyak istighfar dan amal saleh.
- Memperbaiki hubungan dengan pasangan.
- Menjaga batasan pergaulan dengan lawan jenis.
Di tengah perkembangan teknologi, menjaga kesetiaan tidak hanya berarti menghindari pertemuan fisik dengan pria lain. Kesetiaan juga mencakup menjaga percakapan, pesan pribadi, foto, video, dan hubungan emosional di ruang digital.
Bagi seorang Muslimah, kesetiaan kepada pasangan bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Sebab pernikahan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia, tetapi juga di hadapan Allah pada hari akhir. (*)






