Penulis: A. Dardiri Zubairi (Penulis dan Aktivis NU)
Aku seorang sunni. Dan, seperti yang aku dengar, engkau seorang pemimpin Syi’ah. Biarlah perbedaan itu ada. Toh kiblat kita sama. Jika dalam pidatomu mengecam polarisasi Sunni-Syiah sebagai propaganda Barat, itu benar adanya. Di timur tengah, negaramu berjuang sendiri melawan kekuatan global di tengah kepungan negara yang mengaku sunni. Atau negara Wahabi yang selalu memanas-manasi perbedaan Sunni-Syiah itu.
Tapi darimu aku belajar makna kepemimpinan. Pelajaran yang sangat mahal karena aku tak menemukan pada pemimpin negara Islam lainnya. Apalagi pada sosok kepemimpinan Donald Trump dan Netanyahu. Dua orang yang lebih layak disebut sebagai penjahat ketimbang sebagai pemimpin.
Sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, kau sangat berkelas. Kepemimpinanmu bukan saja milik 90 juta rakyat Iran. Kau milik orang-orang di dunia ini yang semuanya punya pemimpin, tapi tak merasa memilikinya. Di Negara Islam atau negeri muslim juga begitu. Pemimpin dan yang dipimpin berjarak. Jauh sekali. Bukan saja berbeda dalam makna ruang (space), tapi juga cita, harapan, keberpihakan, dan empati yang nyaris rakyat tak menemukan apa-apa pada pemimpinnya. Rakyat bener-bener sendiri. Terpojokkan. Terpinggirkan.
Sebagai pemimpin tertinggi kau layak memperoleh prevelensi. Dilindungi dan dijamin keamanannya. Tapi kau justru menolak. Rakyat Iran lah yang menjadi kecemasanmu. “Kalau kalian bisa memindahkan 90 juta rakyat Iran, baru saya akan pindah setelahnya”. Dan bener. Kau memilih mati di tempat kerjamu dalam serangan bom mematikan yang diluncurkan oleh Israel dan Amerika.
Mendengar kau mati, aku lemas. Tertunduk layu. Seorang pemimpin yang lembut kepada rakyatnya dan teguh memegang prinsip kepada musuhnya telah tiada. Hingga detik terakhir dalam situasi sulit karena perang melawan negara yang menjadi polisi dunia dan negara yang melakukan genoside, kau masih berpikir tentang rakyatmu.
Bukan berarti kepemimpinanmu memuaskan semua. Bagi rakyat Iran yang mabuk pemikiran liberal, kepemimpinanmu tidak cocok. Rakyat Iran seperti ini lebih memuja kebebasan, demokrasi, HAM model Amerika. Tanpa melihat bahwa Amerika menggunakan isu ini untuk menghabisi negara yang tak mau tunduk padanya demi minyak.
Tapi bagiku kau tetap seorang pemimpin yang terhormat. Menjaga kedaulatan dan harga diri bangsa Iran di hadapan negara Adi kuasa dan proxinya di Timur Tengah. Tak mudah mempertahankan idealisme di tengah pemimpin Arab hidup glamor. Kehilangan empati terhadap saudaranya di Palestina yang mengalami kedzaliman Israel. Hanya bangsa Iran yang kau pimpin yang menjadi perisai.
Aku melihatmu sebagai kakek bagi bocil Iran yang meminta nasehatmu “bagaimana caranya menjadi syahid” dalam sebuah video. Anak kecil yang polos bertanya kepadamu tentang mati syahid. Ini gila. Jika anak kecil tidak tahu bawa sejarahmu melarat ketika berjuang dan berkali-kali dipenjara masa kepemimpinan Reza Pahlevi, boneka Amrik, anak kecil ini tak akan bertanya padamu. Dia bertanya kepadamu karena kau pejuang.
Sebelum meninggal kau berkata, “Saya sudah tua. Tubuh saya lemah. Namun pertarungan ini bukan milik saya. Ini milik pemuda Iran. Anda (musuh Iran) tidak melawan seorang pria, tetapi sebuah bangsa yang mempertahankam martabatnya. Bunuh Aku, perang tidak akan berakhir”.
Simak diksi yang dipilih. Ada sikap rendah hati. Menyentuh. Berbaur dengan kobaran api perlawanan. Siapapun yang mendengarnya seperti terpompa untuk melawan. Bak singa terluka. Tak ada kata tunduk. Tak ada kata menyerah. Satu karakter kuat yang dibangun selama berabad-abad sebagai roh perjuangan Persia. Mungkin bisa kalah. Tapi menyerah tak ada dalam kamus bangsa Iran.
Selamat jalan sang pemimpin. Citamu yang berkeinginan mati syahid terkabul sudah. Seperti kata Gus Dur, kau tidak mati. Kau hanya pergi. Justru kau datang lagi, bahkan sangat dekat. Kisah kepemimpinanmu melintasi selat hormuz, berlayar di hati setiap insan yang merindukan sosok pemimpin sepertimu.
Di negeriku, mencari sosok pemimpin sepertimu ibarat mencari rokok ketika menyelam di lautan Samudera. Sangat sulit. Mereka tak berani mati membela rakyat dan negeranya. Justru mereka berani mengorbankan rakyat dan negaranya mati agar mereka hidup.
Sekali lagi selamat jalan pemimpin
Alfatihah….
*Artikel ini sebelumnya telah tayang di media sosial A. Dardiri Zubairi pada tanggal 4 Maret 2026.
