Muslimah, Jangan Biarkan Sikap Suami Mengubah Kemuliaan Akhlakmu

Ilustrasi: Berhentilah menjadikan sikap suami sebagai alasan kamu berubah menjadi buruk. (Foto: Sicom)

syiarislam.com – Tidak semua rumah tangga berjalan dengan hangat dan manis seperti yang dibayangkan.

Ada istri yang setiap hari menghadapi suami yang cuek, keras, mudah marah, bahkan kurang menghargai perasaannya. Dalam keadaan seperti itu, banyak perempuan akhirnya berkata:

“Kalau suami saja tidak peduli, kenapa aku harus lembut?”

“Kalau dia kasar, aku juga akan lebih kasar.”

Tanpa sadar, akhlak seorang istri akhirnya ikut ditentukan oleh perlakuan suaminya.

Padahal wahai Muslimah, kemuliaan dirimu tidak bergantung pada bagaimana manusia memperlakukanmu. Kemuliaanmu lahir dari bagaimana engkau menjaga hubunganmu dengan Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Artinya, ukuran kemuliaan seorang wanita bukan pada bagaimana suaminya bersikap, melainkan bagaimana ia menjaga iman, kesabaran, dan akhlaknya di hadapan Allah.

Belajarlah dari Asiyah, Wanita Surga

Lihatlah kisah Asiyah, istri Fir’aun. Ia hidup bersama lelaki paling zalim yang mengaku dirinya tuhan. Namun keburukan suaminya tidak membuatnya kehilangan iman dan kelembutan hati.

Allah bahkan mengabadikan namanya dalam Al-Qur’an:

“Dan Allah membuat istri Fir‘aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman…”

(QS. At-Tahrim: 11)

Di tengah tekanan dan kezhaliman, Asiyah justru memohon rumah di surga, bukan membalas keburukan dengan keburukan.

Inilah pelajaran besar bagi para Muslimah: lingkungan yang buruk bukan alasan untuk menjadi buruk pula.

Suami Saleh Tidak Menjamin Seseorang Menjadi Baik

Sebaliknya, Allah juga memberi pelajaran melalui istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Mereka hidup bersama laki-laki pilihan Allah, namun tetap memilih jalan yang salah.

Allah berfirman:

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth…”

(QS. At-Tahrim: 10)

Ayat ini mengajarkan bahwa hidayah dan akhlak adalah pilihan pribadi. Kesalehan pasangan tidak otomatis membuat seseorang mulia, sebagaimana keburukan pasangan tidak otomatis menjadikan seseorang hina.

Akhlakmu Adalah Cermin Imanmu

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”

(HR. Tirmidzi)

Hadis ini tidak mengatakan “yang paling baik akhlaknya ketika diperlakukan baik.” Namun tetap menjaga adab bahkan saat diuji oleh keadaan.

Memang tidak mudah menjadi lembut ketika hati terluka. Tidak mudah tersenyum ketika sering diabaikan. Tetapi justru di situlah nilai kesabaran seorang Muslimah di sisi Allah.

Imam Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah berkata:

“Kemuliaan seorang mukmin terletak pada akhlaknya, bukan pada bagaimana manusia memperlakukannya.”

Jangan Menunggu Suami Berubah untuk Menjadi Baik

Jika hari ini suamimu masih kurang perhatian, tetaplah menjadi perempuan yang menjaga lisannya. Jika suamimu masih keras, jangan biarkan hatimu ikut mengeras. Karena kelak yang Allah hisab bukan sikap suamimu saja, tetapi juga bagaimana engkau meresponsnya.

Menjadi baik bukan berarti lemah. Menjadi lembut bukan berarti kalah. Justru itu tanda kuatnya iman.

Tetaplah menjaga shalatmu, adabmu, tutur katamu, dan kehormatan dirimu. Sebab bisa jadi, akhlak baik seorang istri menjadi jalan turunnya hidayah dan lembutnya hati suami.

Semoga Allah menjaga hati para Muslimah, menguatkan dalam kesabaran, dan menjadikan rumah tangga dipenuhi sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Baarakallahu fiiki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *