ISLAMABAD — Gelombang kemarahan melanda Pakistan setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kerusuhan yang pecah di berbagai wilayah negara itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai puluhan lainnya.
Aksi demonstrasi yang awalnya berlangsung sebagai bentuk protes atas serangan udara terkoordinasi di Teheran berubah menjadi bentrokan dengan aparat keamanan di sejumlah kota besar.
Protes Meluas, Korban Berjatuhan
Kerusuhan terjadi di berbagai wilayah, termasuk Islamabad, Karachi, dan Skardu. Korban tewas tercatat 10 orang di Karachi, delapan orang di Skardu, serta dua orang di Islamabad.
Demonstrasi sebagian besar dipimpin komunitas Muslim Syiah yang menuntut keadilan atas kematian Khamenei. Aparat keamanan terpaksa menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan massa yang semakin tidak terkendali.
Ribuan demonstran memadati kawasan Red Zone di Islamabad, wilayah dengan pengamanan ketat yang menjadi lokasi parlemen, kantor pemerintahan, serta kedutaan asing. Massa meneriakkan slogan anti-Amerika dan menyerukan balasan terhadap Israel.
Sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, terlihat membawa poster bergambar Khamenei sebagai simbol solidaritas terhadap Iran.
Bentrokan dengan Aparat
Pemerintah Pakistan mengecam serangan militer AS–Israel terhadap Iran yang menewaskan Khamenei, namun juga mengkritik serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk.
Situasi memanas ketika aparat menutup akses menuju kawasan diplomatik. Saat demonstran mencoba menerobos, aparat menembakkan gas air mata dan peluru karet. Sejumlah saksi juga melaporkan terdengar tembakan peluru tajam.
Rumah sakit pemerintah di Islamabad melaporkan menerima sedikitnya dua jenazah dan merawat puluhan korban luka akibat bentrokan tersebut.
Karachi Jadi Titik Kerusuhan Paling Parah
Kerusuhan paling berdarah terjadi di Karachi, kota terbesar Pakistan. Ratusan massa menyerbu fasilitas diplomatik Amerika Serikat. Sejumlah demonstran bahkan memanjat gerbang konsulat dan merusak bangunan sebelum akhirnya dibubarkan aparat.
Pemerintah Provinsi Sindh menyebut insiden tersebut sebagai peristiwa sangat tragis dan memerintahkan penyelidikan independen.
Kedutaan Besar AS di Pakistan mengimbau warganya menghindari kerumunan dan memantau situasi keamanan di Karachi, Islamabad, dan Lahore.
Kekerasan Meluas hingga Wilayah Utara
Di wilayah Gilgit-Baltistan, demonstran membakar kantor pengamat militer Perserikatan Bangsa-Bangsa di Skardu hingga menyebabkan sedikitnya delapan orang tewas. Pemerintah setempat memberlakukan jam malam selama tiga hari karena situasi dinilai masih tegang.
Aksi serupa juga terjadi di Peshawar, Multan, dan Faisalabad dengan massa turun ke jalan mengecam AS dan Israel serta berkabung atas kematian Khamenei.
Pemerintah Serukan Warga Menahan Diri
Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyampaikan duka atas kematian pemimpin Iran tersebut dan menyoroti pelanggaran norma hukum internasional, terutama larangan menargetkan kepala negara.
Pemerintah Pakistan juga menyerukan masyarakat untuk menahan diri dan menyampaikan aspirasi secara damai guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Pakistan diketahui memiliki hubungan perdagangan dan energi dengan Iran serta tidak mengakui Israel, sekaligus mendukung solusi dua negara dalam konflik Israel–Palestina.(*)





