WASHINGTON DC – Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan gelombang serangan ke wilayah Iran pada Rabu (waktu setempat), sehari setelah melakukan operasi militer serupa. Aksi tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik kedua negara dapat kembali berkembang menjadi perang terbuka.
Serangan terbaru ini menjadi eskalasi paling serius sejak Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) pada pertengahan Juni yang mengakhiri pertempuran sementara antara kedua pihak.
Dalam operasi tersebut, militer AS menyerang sejumlah kota di Iran, yakni Iranshahr, Bandar Abbas, Konarak, Chabahar, Bushehr, serta Aq Qala di bagian timur laut negara itu.
Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan seorang petugas pemadam kebakaran tewas setelah Bandara Iranshahr menjadi sasaran serangan.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) pada Kamis dini hari menyatakan telah menyelesaikan “gelombang serangan tambahan” terhadap Iran guna semakin melemahkan kemampuan negara itu dalam menyerang kapal-kapal dagang dan pelayaran sipil di Selat Hormuz.
Menurut CENTCOM, sekitar 90 sasaran militer Iran berhasil dihantam, termasuk sistem pertahanan udara, fasilitas pengawasan pesisir, lokasi penyimpanan rudal dan drone, kemampuan angkatan laut, serta infrastruktur logistik militer di sepanjang garis pantai Iran.
Pejabat Iran yang dikutip kantor berita Fars mengatakan serangan di Chabahar menghantam menara pengendali maritim dan sebuah gudang penyimpanan. Sementara media pemerintah Iran melaporkan sebuah jembatan kereta api di Aq Qala juga menjadi target serangan.
Beberapa jam setelah serangan AS, sirene peringatan serangan udara berbunyi di Bahrain. Kementerian Pertahanan Kuwait juga menyatakan sistem pertahanan udaranya sedang menghadapi serangan roket dan drone.
Korps Garda Revolusi Islam Iran kemudian mengklaim telah menyerang dua pangkalan militer AS di Kuwait dan dua pangkalan lainnya di Bahrain. Iran juga memperingatkan bahwa serangan dapat diperluas ke pangkalan-pangkalan AS lain di kawasan apabila Washington terus melanjutkan operasi militernya.
Juru bicara Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, sebelumnya telah memperingatkan akan adanya balasan atas serangan AS.
“Tunggu tamparan keras dari rakyat Iran,” tulis Rezaei melalui akun X.
Serangan Berlanjut Sejak Selasa
Sehari sebelumnya, Selasa, Amerika Serikat juga melancarkan serangan terhadap Iran. Washington menyebut operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
CENTCOM menyatakan lebih dari 80 sasaran diserang menggunakan amunisi presisi dalam operasi yang berlangsung sekitar empat jam.
IRNA melaporkan delapan personel angkatan udara dan angkatan laut Iran tewas dalam serangan yang menghantam Bandar Abbas dan Bushehr.
Saling Tuding Langgar Kesepakatan
Amerika Serikat dan Iran saling menuduh telah melanggar nota kesepahaman yang sebelumnya mengakhiri perang, mencabut blokade laut AS terhadap Iran, serta membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.
Namun, kesepakatan tersebut masih menyisakan persoalan penting, termasuk masa depan program nuklir Iran dan pengaturan administrasi Selat Hormuz, yang seharusnya dibahas dalam masa negosiasi selama 60 hari.
Perselisihan utama muncul pada klausul kelima MoU yang mengatur bahwa Iran harus mengupayakan pelayaran aman bagi kapal-kapal komersial tanpa pungutan selama 60 hari dari Teluk Persia menuju Laut Oman maupun sebaliknya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan negaranya menafsirkan klausul tersebut sebagai pemberian kewenangan penuh kepada Iran untuk menentukan pengaturan pelayaran di Selat Hormuz. Penafsiran itu kemudian dijadikan dasar bagi Teheran untuk menyerang kapal-kapal yang dianggap tidak memperoleh persetujuan.
Mantan Direktur Operasi NATO di Pentagon, David Des Roches, mengatakan MoU mengharuskan Amerika Serikat mencabut blokade pelabuhan Iran, melonggarkan sanksi ekspor minyak Iran, serta mewajibkan Iran tidak mengganggu pelayaran sipil di Selat Hormuz.
Menurut Des Roches, ketika Iran menyerang kapal-kapal tersebut, Teheran berupaya menciptakan aturan baru yang mewajibkan kapal melintas melalui perairan Iran. Kapal yang tidak mengikuti ketentuan itu menjadi sasaran serangan.
“Hal itu tidak dapat diterima oleh Presiden Trump. Karena itulah serangan ini merupakan bentuk pembalasan,” ujarnya.
Trump Ancam Balas Lebih Keras
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan Selat Hormuz hanya akan dibuka berdasarkan “pengaturan Iran, bukan ancaman Amerika”.
Ia juga memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dibalas.
Sementara itu, koresponden Al Jazeera di Washington, Kimberly Halkett, mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump tetap berpendapat bahwa nota kesepahaman menjamin kebebasan seluruh kapal melintasi Selat Hormuz.
Menurut Gedung Putih, peningkatan konflik terjadi karena Iran berupaya menerapkan kedaulatan sepihak atas Selat Hormuz, yang oleh Amerika Serikat dianggap sebagai jalur pelayaran internasional yang sangat penting bagi perekonomian dunia.
Berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One, Trump tidak menutup kemungkinan perang besar kembali pecah.
“Kami menghantam mereka sangat keras. Setiap kali mereka menyerang kami, kami akan membalas 20 kali lebih keras,” kata Trump.
Namun, dalam konferensi pers sebelumnya pada hari yang sama, Trump menyatakan tidak yakin perang akan kembali terjadi.
“Apa pun yang terjadi akan berakhir sangat cepat,” ujarnya.
Dikecam Lawan Politik
Gelombang serangan terbaru Amerika Serikat memicu kritik dari kalangan oposisi di dalam negeri.
Senator independen Bernie Sanders menilai kembalinya perang hanya akan menelan lebih banyak korban jiwa dan menghamburkan uang pembayar pajak Amerika.
Senator Partai Demokrat Elizabeth Warren juga mengecam kebijakan Trump dengan menyatakan bahwa perang melawan Iran telah menelan korban dari pihak Amerika Serikat.
Sebelumnya, Trump menyatakan gencatan senjata antara kedua negara telah berakhir setelah terjadi saling serang.
“Ini adalah pembalasan atas pengeboman kapal-kapal oleh Iran kemarin. Jika itu terjadi lagi, akibatnya akan jauh lebih buruk,” tulis Trump melalui media sosial.
Meski demikian, ia menegaskan masih menginginkan penyelesaian melalui jalur diplomasi dan membuka peluang agar perundingan tetap dilanjutkan.
Saat menghadiri KTT NATO di Ankara, Trump juga melontarkan sejumlah ancaman terhadap Iran. Selain membuka kemungkinan serangan militer lanjutan, ia mengatakan Amerika Serikat dapat kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran serta menyerang fasilitas listrik dan instalasi air negara tersebut.
Trump juga menyebut pasukan Amerika “mungkin mengambil alih” Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, sebuah langkah yang hampir dipastikan memerlukan pengerahan pasukan darat.(*)






