TEHERAN – Eskalasi perang Iran – Israel kian meningkat. Iran mengonfirmasi telah menargetkan pangkalan Amerika Serikat (AS) di berbagai wilayah Timur Tengah.
Iran menargetkan aset Amerika Serikat di negara-negara Arab kawasan Teluk sebagai balasan atas serangan besar gabungan oleh AS dan Israel terhadap Iran, yang memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik regional yang lebih luas.
Pemerintah Iran pada Sabtu mengonfirmasi serangan terhadap sejumlah target, menurut kantor berita Fars, termasuk di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab, yang menjadi lokasi pangkalan udara dengan aset militer AS.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim seluruh target militer Israel dan Amerika di Timur Tengah telah dihantam “serangan kuat rudal Iran”.
“Operasi ini akan terus berlanjut tanpa henti hingga musuh benar-benar dikalahkan,” kata IRGC, seraya menambahkan bahwa seluruh aset AS di kawasan tersebut dianggap sebagai target sah bagi militer Iran.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hamid Ghanbari mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Iran memiliki hak untuk membela diri dan menyesalkan korban kemanusiaan akibat eskalasi militer saat ini.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam surat kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menegaskan Iran akan “terus menjalankan hak membela diri secara tegas dan tanpa ragu hingga agresi benar-benar dihentikan”.
Serangan di Kawasan Uni Emirat Arab
Sedikitnya satu orang tewas di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab, setelah beberapa rudal yang diluncurkan dari Iran berhasil dicegat, menurut kantor berita resmi negara tersebut.
Kebakaran juga terjadi di dekat sebuah hotel di kawasan wisata Palm Islands di Dubai. Asap tebal terlihat dari kejauhan, sementara beberapa ledakan terdengar sepanjang hari.
Kantor media Dubai kemudian mengonfirmasi adanya “insiden” di sebuah bangunan di wilayah Palm Jumeirah yang menyebabkan kebakaran dan empat orang terluka.
Bahrain
Bahrain menyatakan serangan rudal menargetkan markas Armada Kelima Angkatan Laut AS yang berada di ibu kota, Manama.
Pemerintah menyebut serangan tersebut sebagai “pengkhianatan” dan “pelanggaran nyata terhadap kedaulatan dan keamanan kerajaan”.
Rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan drone Shahed milik Iran menghantam sebuah gedung dekat markas tersebut hingga memicu kebakaran.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain melaporkan beberapa bangunan permukiman di Manama terdampak, sementara tim pertahanan sipil melakukan pemadaman dan penyelamatan.
Kuwait
Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan Pangkalan Udara Ali al-Salem menjadi sasaran sejumlah rudal balistik, namun seluruhnya berhasil dicegat sistem pertahanan udara.
Bandara Internasional Kuwait juga menjadi target serangan drone yang menyebabkan beberapa pegawai mengalami luka ringan serta kerusakan pada bangunan terminal.
Kementerian Luar Negeri Kuwait menegaskan negara tersebut memiliki hak untuk membela diri.
Qatar
Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan berhasil menggagalkan serangan terhadap negaranya sesuai rencana keamanan yang telah disiapkan, dengan mencegat seluruh rudal sebelum memasuki wilayah udara.
Radar peringatan dini jarak jauh di wilayah utara Qatar dilaporkan menjadi sasaran rudal Iran, namun tidak ada korban jiwa.
Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan penargetan oleh negara tetangga tidak dapat dibenarkan dalam alasan apa pun, seraya menegaskan Qatar selalu menjauh dari konflik regional.
Tahun lalu, Qatar dua kali menjadi sasaran serangan, yakni saat Iran menyerang pangkalan Al Udeid milik militer AS pada Juni dan serangan Israel terhadap pertemuan Hamas di Doha pada September.
Arab Saudi
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan Iran menargetkan Riyadh dan wilayah timur kerajaan, namun serangan berhasil digagalkan.
Arab Saudi menegaskan serangan tersebut tidak dapat dibenarkan dan terjadi meski Iran mengetahui bahwa kerajaan tidak mengizinkan wilayah udara dan teritorinya digunakan untuk menyerang Iran.
Irak
Seorang koresponden Al Jazeera melaporkan Bandara Erbil di wilayah Kurdistan, Irak utara, menjadi sasaran serangan dua kali.
Serangan drone yang menargetkan Bandara Internasional Erbil berhasil dicegat dan ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara.
Amerika Serikat masih menempatkan pasukan di wilayah otonomi Kurdi di Irak sebagai bagian dari koalisi internasional melawan ISIL (ISIS), yang dijadwalkan berakhir pada September berdasarkan kesepakatan Washington dan Baghdad.
Di sisi lain, serangan drone juga menargetkan markas kelompok bersenjata Kataeb Hezbollah di barat daya Baghdad dan menewaskan dua orang, menurut kantor berita Associated Press.
Serangan lain dilaporkan menghantam Jurf al-Nasr, pangkalan militer Irak yang menampung kelompok paramiliter yang kini telah terintegrasi dalam angkatan bersenjata resmi.
Kelompok Kataeb Hezbollah memperingatkan akan segera menyerang pangkalan militer Amerika sebagai balasan atas serangan tersebut.
Dampak Transportasi dan Energi
Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab sementara menutup wilayah udara mereka serta mengecam serangan Iran.
Kapal-kapal di Teluk dilaporkan menerima informasi penutupan Selat Hormuz, jalur ekspor minyak utama yang menghubungkan produsen minyak terbesar kawasan seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Oman Tidak Diserang
Menurut laporan Al Jazeera dari Doha, satu-satunya negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk yang belum menjadi sasaran Iran adalah Oman.
Oman selama bertahun-tahun berperan sebagai mediator antara Iran dan negara lain, termasuk dalam perundingan tidak langsung terbaru antara Iran dan Amerika Serikat di Oman dan Jenewa.
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi sebelumnya menyatakan optimisme bahwa perdamaian “sudah dalam jangkauan” setelah Iran setuju tidak akan menimbun uranium yang diperkaya. Namun beberapa jam kemudian Israel dan AS melancarkan serangan, sehingga perundingan tersebut gagal.
Albusaidi menyatakan keprihatinan atas pecahnya kekerasan dan mendesak Washington agar tidak semakin terlibat dalam konflik.
Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) merupakan aliansi enam negara di Semenanjung Arab—Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab—yang dibentuk pada 1981 untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, keamanan, budaya, dan sosial.
Media pemerintah Suriah juga melaporkan ledakan rudal menewaskan empat orang dan melukai sejumlah lainnya di kawasan industri Suwayda, meski sumber serangan tidak disebutkan.***






