Perang Iran–Israel Picu Alarm Ekonomi! Rupiah Terancam Tembus Rp17.000 per Dolar AS

JAKARTA – Ketegangan geopolitik yakni perang Iran-Israel mulai berdampak pada ekonomi global. Nilai tukar rupiah diprediksi terus melemah dan berpotensi menembus Rp17.000 per dolar Amerika Serikat pada pekan depan.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan mengalami pelemahan seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi setelah serangan Israel terhadap Iran memicu ketidakpastian global.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pelemahan rupiah diperkirakan berlanjut setelah penutupan perdagangan akhir pekan.

“Rupiah sesuai ekspektasi pada penutupan pasar Jumat, kemungkinan besar akan kembali mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Sabtu (28/2/2026).

Ia memperkirakan rupiah berpotensi menuju kisaran Rp17.000 per dolar AS jika tekanan eksternal terus meningkat.

Dampak Perang Dagang dan Kebijakan AS

Selain konflik Timur Tengah, pelemahan rupiah juga dipicu memanasnya perang dagang global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menaikkan bea masuk global dari 10 persen menjadi 15 persen.

Kebijakan tersebut turut mencakup pengenaan tarif tinggi terhadap sel dan panel surya dari Indonesia hingga 104 persen. Kondisi ini dinilai memperburuk tekanan terhadap stabilitas nilai tukar.

“Perang dagang antara Indonesia dan AS kembali memanas. Ditambah konflik Timur Tengah, rupiah kemungkinan melemah cukup signifikan,” jelas Ibrahim.

Bank Indonesia Diminta Siaga Intervensi

Dengan potensi pelemahan yang cukup dalam, Ibrahim menilai Bank Indonesia perlu melakukan langkah antisipatif melalui kebijakan moneter dan intervensi pasar.

“Ini yang harus diantisipasi Bank Indonesia untuk melakukan intervensi dan pengawasan moneter,” katanya.

Pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), rupiah tercatat melemah 28 poin atau 0,17 persen ke level Rp16.793 per dolar AS.

Kinerja IHSG dan Bursa Sepekan

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia mencatat kinerja pasar saham yang bervariasi sepanjang periode 23–27 Februari 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 8.235, turun 0,44 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar juga mengalami penurunan 1,03 persen menjadi Rp14.787 triliun.

Frekuensi transaksi harian rata-rata turun 3,72 persen menjadi 2,95 juta transaksi. Namun, rata-rata nilai transaksi harian meningkat 25,35 persen menjadi Rp29,52 triliun, sementara volume transaksi harian naik 8,55 persen menjadi 51,02 miliar lembar saham.

Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih Rp694,22 miliar sepanjang pekan tersebut. Secara year-to-date 2026, nilai jual bersih investor asing mencapai Rp9,51 triliun.

Aktivitas Penerbitan Obligasi dan Sukuk Meningkat

Sepanjang periode 23–27 Februari 2026, BEI mencatat delapan pencatatan efek baru yang terdiri atas enam obligasi dan dua sukuk dari berbagai emiten, termasuk sektor pembiayaan dan perbankan.

Total emisi obligasi dan sukuk sepanjang 2026 mencapai 30 emisi dari 21 emiten dengan nilai Rp28,71 triliun. Secara keseluruhan, terdapat 677 emisi obligasi dan sukuk dengan nilai outstanding Rp560,01 triliun.

Selain itu, Surat Berharga Negara yang tercatat di BEI mencapai 186 seri dengan nilai nominal Rp6.683,44 triliun, sementara Efek Beragun Aset tercatat tujuh emisi senilai Rp3,69 triliun.

Geopolitik Global Jadi Penentu Pasar

Eskalasi konflik Iran–Israel dan kebijakan perdagangan global diperkirakan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah dan pasar keuangan Indonesia dalam waktu dekat. Investor kini menanti langkah stabilisasi pemerintah dan bank sentral untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *