Dakwah  

Imam Al-Ghazali Rekomendasikan Empat Cara Mengikis Riya

Seorang muslim ibadah kepada Allah. (Foto: Ist/Net)

Salah satu penyakit hati yang paling halus namun berbahaya bagi seorang mukmin adalah riya. Riya terjadi ketika seseorang beribadah bukan semata karena Allah, tetapi karena ingin dilihat, dipuji, atau dihargai oleh manusia. Meski tampak sepele, riya memiliki dampak besar karena dapat menghapus nilai amal di sisi Allah. Karena itulah, para ulama mengingatkan agar selalu waspada terhadap penyakit ini.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin memberikan empat rekomendasi penting yang bisa dijadikan pegangan untuk membersihkan niat dan menjauhkan diri dari riya dalam ibadah. Langkah pertama adalah mengenali bahwa manusia adalah makhluk lemah dan penuh kekurangan. Tidak ada satu pun kelebihan yang benar-benar murni berasal dari diri sendiri. Ketika seseorang menyadari hakikat ini, ia tidak akan tergoda mencari pujian manusia, karena sadar bahwa semua kemampuan dan amalnya hanyalah karunia Allah.

Imam Al-Ghazali mengaitkan hal ini dengan Surat At-Thalaq ayat 12 yang artinya: “Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan (menciptakan pula) bumi seperti itu. Perintah-Nya berlaku padanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”

Ayat tersebut seakan mengingatkan bahwa penciptaan alam semesta sudah cukup menjadi bukti betapa besar kuasa Allah. Maka sungguh aneh jika manusia justru mengarahkan ibadahnya kepada sesama makhluk yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Kesadaran ini akan menumbuhkan rasa rendah hati dan menutup pintu riya.

Langkah kedua adalah mengingat besarnya kerugian amal. Langkah ini adalah menyadari bahwa pahala dari Allah sangatlah besar, namun semua itu bisa lenyap jika amal dicampuri riya. Imam Al-Ghazali menggambarkan orang yang beramal karena ingin dipuji seperti seseorang yang memiliki perhiasan mahal yang seharusnya bisa dijual dengan harga tinggi kepada raja, tetapi justru dilepas dengan harga murah kepada orang biasa.

Dengan kata lain, seseorang yang mengharapkan pujian manusia sedang menukar balasan akhirat dengan keuntungan dunia yang sangat kecil. Padahal, jika niat diarahkan murni untuk Allah, ia akan memperoleh kebaikan dunia sekaligus akhirat. Sebaliknya, jika orientasi hanya pada dunia, bukan hanya pahala akhirat yang hilang, bahkan dunia pun bisa tidak benar-benar diraih.

Yang ketiga, Imam Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa manusia tidak selalu menyukai ibadah yang dilakukan orang lain. Ketika seseorang beribadah demi mendapat perhatian, belum tentu orang yang dituju merasa senang. Bahkan bisa jadi ia justru memandang sinis atau merasa terganggu.

Maka menggantungkan tujuan ibadah kepada manusia adalah pilihan yang rapuh. Manusia mudah berubah sikap, sedangkan Allah tidak pernah ingkar terhadap hamba-Nya. Karena itu, menjaga hati agar tetap tertuju kepada Allah adalah cara paling aman untuk menghindari riya.

Keempat adalah mengutamakan rida Allah. Langkah terakhir ini adalah memilih rida Allah di atas segalanya. Imam Al-Ghazali mengumpamakan rida Allah seperti rida seorang raja, sedangkan rida manusia seperti rida seorang budak. Orang yang riya seolah meninggalkan persetujuan raja demi mengejar persetujuan budak.

Padahal, bagi seorang mukmin, rida Allah adalah tujuan tertinggi. Jika Allah sudah ridha, maka penilaian manusia tidak lagi menjadi beban.

Empat rekomendasi dari Imam Al-Ghazali ini menjadi panduan penting agar amal tetap bersih dari penyakit hati. Dengan niat yang lurus, ibadah tidak hanya bernilai secara lahiriah, akan tetapi juga diterima di sisi Allah sebagai amal yang ikhlas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *