TEHERAN – Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama Syiah memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Ia akan melanjutkan kepemimpinan dan perjuangan ayahnya, Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan Amerika Serikat dan Israel.
Sumber yang mengetahui proses itu mengatakan pemilihan putra Ali Khamenei, Mojtaba, terjadi di bawah tekanan Korps Garda Revolusi Islam. “Mojtaba punya kendali kuat atas institusi militer karena pernah menjadi bagian IRGC,” sumber tersebut menerangkan kepada Iran International.
Laporan itu dikuatkan The New York Times yang menyebut Mojtaba sebagai kandidat terdepan menggantikan ayahnya. Surat kabar itu menulis, “Para ulama punya keberatan karena khawatir Mojtaba akan jadi target Amerika Serikat dan Israel.”
Menurut laporan tersebut, para ulama menggelar dua pertemuan virtual pada Selasa untuk membahas suksesi ini. Media Iran juga melaporkan sebuah gedung di Qom dikosongkan setelah Israel Defense Forces mengumumkan rencana serangan udara.
Mojtaba Khamenei yang kini berusia 56 tahun dikenal sangat tertutup dari sorotan publik. Ia belum pernah memegang jabatan pemerintahan, tetapi disebut punya pengaruh besar di lingkaran elite Iran.
Pada Januari lalu, Bloomberg melaporkan Mojtaba mengawasi kerajaan investasi bernilai besar. Media itu menyebut ia diduga memiliki akses rekening bank Swiss dan properti mewah di Inggris senilai lebih dari 100 juta dolar AS.
Putra Khamenei juga diyakini punya pengaruh kuat atas IRGC dan kelompok paramiliter sukarelawan Basij. Namun, statusnya sebagai anak Pemimpin Tertinggi justru dinilai bisa jadi bumerang politik.
Seorang sumber dekat kantor Khamenei mengatakan kepada Reuters bahwa sang ayah menolak pencalonan putranya. “Pemimpin tidak ingin melihat kembalinya pemerintahan turun-temurun karena itu bisa merusak semangat Revolusi 1979,” kata sumber tersebut.
Revolusi 1979 sendiri menggulingkan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi yang didukung Amerika Serikat. Kini, Iran kembali berada di persimpangan sejarah antara tradisi revolusi dan bayang-bayang dinasti kekuasaan. ***





