TEMANGGUNG – Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Temanggung kini tidak lagi menjadi penerima makan bergizi gratis (MBG). Sekolah yang berada di Jalan Mujahidin, Nomor 26, Giyanti, Kauman, Kecamatan Temanggung, ini menolak MBG buntut adanya menu makanan basi dan tidak layak konsumsi yang didistribusikan oleh SPPG Giyanti.
“Saya tetap akan menolak. Sudah trauma saya karena ini sudah kejadian yang kedua,” ungkap Kepala SD Muhammadiyah Temanggung Triana Widiastuti seperti dilaporkan Kompas.com, Rabu (25/2/2026).
Kejadian ini merupakan kali kedua SD Muhammadiyah Temanggung menerima pasokan makanan yang tidak layak konsumsi. Menu basi diterima sekolah pada Senin, 23 Februari 2026. Pada September 2025 yang lalu, sekolah ini juga pernah mengalami hal serupa.
Triana menyebutkan menu makanan kering yang dibagikan pada Senin pagi meliputi roti meses, kurma, telur rebus, dan susu ultra-high temperature (UHT). Sebelum dibagikan kepada 808 siswa dan 60 guru, pihaknya sempat mengecek sampel makanan dan tidak menemukan kejanggalan.
Namun apa yang terjadi kemudian, setelah pembagian, sejumlah wali murid melaporkan kondisi makanan yang memprihatinkan. Mulai dari roti yang sudah berjamur, kurma ditumbuhi ulat, hingga susu UHT kedaluwarsa. “Semuanya mendapat MBG basi,” tambah Triana.
Mendapat banyak laporan beberapa jam sebelum waktu buka puasa, Triana segera menginstruksikan kepada wali murid agar menu MBG tersebut tidak dikonsumsi. Namun, beberapa siswa dilaporkan sempat memakan menu tersebut hingga mengalami gejala gangguan kesehatan, seperti muntah, dan ada muncul ruam-ruam.
Triana menyatakan keputusannya menolak MBG sejalan dengan desakan wali murid yang khawatir akan keselamatan anak-anak mereka. Ia juga menegaskankbahwa kesehatan dan kenyamanan siswa jauh lebih penting daripada program MBG.
Ketua Satgas Pengawasan MBG Temanggung, Tri Winarno, menyampaikan tim Dinas Kesehatan sudah melakukan penelusuran ke sejumlah sekolah terdampak, termasuk SMA Negeri 3 Temanggung dan TK Aba 1 Mujahidin. Berdasarkan hasil penelusuran, ditemukan adanya korban keracunan dari makanan yang dipasok SPPG Giyanti.
“Gejala mual, tapi tidak bisa muntah dan BAB, ditemukan ruam merah. Sudah tertangani di RSUD Temanggung dan berobat jalan,” ungkap Winarno.
Kasus ini menambah catatan buruk penyedia tersebut. Diketahui bahwa pada akhir September 2025 lalu juga menyebabkan ratusan siswa mengalami pusing, mual, dan diare. ***






