Selat Hormuz Dibuka Jika AS Cabut Sanksi dan Ganti Rugi Perang

Ilustrasi Selat Hormuz. (Foto: Reuters)

TEHERAN – Proses negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz yang dimediasi oleh Oman dilaporkan berjalan positif. Meski begitu, Pemerintah Iran menegaskan bahwa jalur pelayaran vital energi global tersebut hanya akan dibuka jika Amerika Serikat (AS) bersedia memenuhi enam syarat yang diajukan oleh Teheran.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi sekaligus Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr. Ia menegaskan bahwa AS harus terlebih dahulu memperbaiki perilakunya terhadap Iran.

“Sampai Amerika memperbaiki perilakunya, Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali,” tegas Zolghadr dalam keterangannya sebagaimana dikutip media pemerintah Iran, IRIB, Sabtu (8/8/2026).

Enam Syarat Iran untuk Amerika Serikat

Adapun enam poin tuntutan yang diajukan Teheran kepada Washington meliputi:

  1. Menghentikan segala bentuk ancaman maupun penghinaan terhadap kesucian Iran dalam retorika politik atau diplomasi.
  2. Mengakhiri secara permanen perang dan aksi militer terhadap Iran beserta sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.

  3. Mencabut blokade laut serta menarik seluruh pasukan militer AS dari wilayah sekitar Iran.

  4. Memberikan ganti rugi secara penuh atas seluruh kerusakan yang dialami Iran akibat dua gelombang perang agresi terakhir.

  5. Mengahapus seluruh sanksi ekonomi yang dijatuhkan terhadap Iran.

  6. Membebaskan seluruh aset milik Iran yang dibekukan maupun disita secara tanpa syarat.

Mayoritas tuntutan ini telah disuarakan Iran sejak pecahnya konflik militer pada 28 Februari 2026. Poin mengenai pencabutan sanksi dan pembebasan aset sebenarnya sempat masuk dalam draf Nota Kesepahaman (MoU) pasca-gencatan senjata pada 17 Juni 2026, namun batal diresmikan akibat eskalasi serangan susulan dari kedua belah pihak.

Juru Bicara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, menegaskan di Bandar Abbas bahwa Selat Hormuz kini berfungsi sebagai instrumen kekuatan dan perang bagi Teheran. Menurutnya, kepastian navigasi di selat tersebut berada sepenuhnya di tangan kepatuhan AS.

“Kapan pun Amerika Serikat menerima persyaratan Iran, Selat Hormuz pasti akan dibuka kembali,” ucap Mohebbi.

Sementara itu, laporan Reuters menyebutkan bahwa negosiasi Iran-Oman berpotensi memberikan Teheran wewenang pengawasan penuh atas kapal-kapal yang melintasi Teluk melalui Selat Hormuz. Meski demikian, pejabat senior AS hingga kini masih enggan menyetujui klausa yang menyerahkan kendali akses jalur internasional tersebut kepada pihak Iran. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *