PENNSYLVANIA (AS)– Meningkatnya kembali konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memunculkan pertanyaan baru mengenai kesiapan militer Washington. Sejumlah analisis menyebut persediaan amunisi strategis AS mengalami penyusutan signifikan setelah berbulan-bulan digunakan dalam operasi militer terhadap Iran.
Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan berpidato dalam sebuah forum pertahanan di US Army War College, Pennsylvania, Rabu (15/7/2026). Dalam pidatonya, Trump diperkirakan akan menyoroti besarnya investasi pemerintahannya di sektor pertahanan yang disebut telah memperkuat kemampuan militer Negeri Paman Sam.
Namun, di balik klaim tersebut, sejumlah lembaga kajian pertahanan mengungkap bahwa perang melawan Iran telah menguras stok sejumlah persenjataan utama Amerika Serikat. Konflik yang kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir juga diperkirakan membuat biaya operasi militer Washington membengkak hingga miliaran dolar AS.
Konflik Kembali Memanas
Setelah sempat terjadi gencatan senjata pada April 2026 dan penandatanganan nota kesepahaman pada Juni, hubungan AS dan Iran kembali memburuk. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan serangkaian serangan udara terhadap fasilitas militer Iran dengan alasan melemahkan kemampuan tempur Teheran.
Serangan besar dilaporkan berlangsung selama beberapa malam berturut-turut dengan sasaran infrastruktur strategis seperti jalur kereta api dan jembatan.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan terhadap sejumlah aset militer Amerika Serikat di Bahrain, Oman, Qatar, dan Kuwait.
Pemerintah AS menuduh Iran melanggar kesepakatan gencatan senjata setelah menyerang kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Sebaliknya, Teheran juga menuding Washington lebih dulu melanggar kesepakatan damai.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump bahkan mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan. Pernyataan tersebut menuai perhatian karena serangan terhadap infrastruktur sipil dapat bertentangan dengan hukum humaniter internasional.
Persediaan Senjata Mulai Menurun
Laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut persediaan senjata Amerika Serikat memang belum berada pada tingkat kritis, tetapi telah mengalami penurunan cukup tajam.
Selama fase awal perang hingga gencatan senjata pada April, militer AS dilaporkan menyerang lebih dari 13.000 target menggunakan berbagai rudal presisi dan sistem pertahanan udara tercanggih.
Sedikitnya empat jenis amunisi strategis diperkirakan telah digunakan lebih dari separuh stok yang tersedia. Meski demikian, pemerintah AS masih memiliki sejumlah varian persenjataan lain sebagai cadangan.
Jenis persenjataan yang paling banyak digunakan meliputi rudal jelajah Tomahawk, Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM), Precision Strike Missile (PrSM), Standard Missile-3 (SM-3), Standard Missile-6 (SM-6), sistem pertahanan THAAD, hingga rudal Patriot.
CSIS memperkirakan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk telah ditembakkan selama operasi di Iran dari total sekitar 3.000 unit yang dimiliki sebelum perang.
Sementara itu, sekitar 1.100 rudal JASSM diperkirakan telah digunakan dari stok sekitar 4.000 unit.
Persediaan rudal PrSM juga disebut sangat terbatas. Dari sekitar 90 unit yang telah diproduksi sejak 2023, diperkirakan antara 40 hingga 70 rudal telah digunakan dalam operasi militer tersebut.
Untuk sistem pertahanan, penggunaan rudal pencegat SM-3 diperkirakan mencapai 130 hingga 250 unit dari sekitar 410 unit yang tersedia sebelum perang.
Sementara rudal SM-6 diperkirakan telah digunakan sebanyak 190 hingga 370 unit dari stok sekitar 1.160 rudal.
Penggunaan sistem pertahanan THAAD juga tergolong tinggi, yakni antara 190 hingga 290 rudal pencegat dari total sekitar 360 unit yang dimiliki.
Adapun rudal Patriot diperkirakan menjadi salah satu yang paling banyak digunakan, yakni antara 1.060 hingga 1.430 unit dari stok sekitar 2.330 rudal.
Kekhawatiran Menghadapi Konflik Berikutnya
Sejumlah analis menilai penyusutan stok senjata tersebut dapat memengaruhi kesiapan militer Amerika Serikat apabila harus menghadapi konflik besar lain di masa depan, terutama jika berhadapan dengan negara berkekuatan militer besar seperti China.
Brian Finucane, analis dari International Crisis Group, menilai sebagian besar persenjataan yang kini digunakan di Iran sebenarnya juga merupakan aset strategis yang dibutuhkan apabila terjadi konflik di kawasan Indo-Pasifik.
Selain itu, berkurangnya stok rudal Patriot juga dinilai berpotensi memengaruhi kemampuan Washington memenuhi kebutuhan sekutu, termasuk Ukraina yang masih membutuhkan sistem pertahanan udara untuk menghadapi serangan rudal Rusia.
Produksi Ditingkatkan
Pemerintahan Trump menyatakan pasokan senjata Amerika Serikat tetap memadai. Untuk mempercepat pemulihan stok, pemerintah telah meminta perusahaan pertahanan seperti Lockheed Martin, Boeing, Raytheon, Northrop Grumman, Honeywell Aerospace, BAE Systems, dan L3Harris meningkatkan kapasitas produksi.
Pada Juni 2026, Trump juga menandatangani Defense Production Act yang mewajibkan industri pertahanan mempercepat produksi persenjataan demi menjaga kesiapan pertahanan nasional.
Meski demikian, sejumlah analis memperkirakan proses pengisian kembali stok senjata strategis tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Butuh Hingga Lima Tahun
Menurut CSIS, waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan persediaan sejumlah senjata utama ke tingkat sebelum perang sangat bervariasi.
Rudal Tomahawk diperkirakan membutuhkan sekitar empat hingga lima tahun untuk kembali ke jumlah semula.
JASSM diperkirakan dapat dipulihkan dalam waktu sekitar satu tahun, sedangkan PrSM membutuhkan sekitar delapan bulan.
Untuk sistem pertahanan SM-3, SM-6, THAAD, dan Patriot, proses pemulihan diperkirakan memerlukan waktu sekitar tiga hingga tiga setengah tahun, bergantung pada kapasitas produksi industri pertahanan Amerika Serikat.
Pemerintahan Trump sendiri mengusulkan anggaran pertahanan sebesar 1,5 triliun dolar AS untuk tahun fiskal 2027 atau meningkat sekitar 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian besar anggaran tersebut akan dialokasikan untuk pengadaan amunisi presisi dan sistem persenjataan canggih guna mengisi kembali persediaan yang terpakai selama konflik.(*)






