TAYBEH, LEBANON- Ancaman terbaru dari Israel untuk menghancurkan jembatan-jembatan penting di Lebanon memicu kekhawatiran global. Jika benar terjadi, wilayah Bekaa barat terancam terputus total dari akses logistik, layanan kesehatan, hingga mobilitas warga sipil.
Militer Israel kembali meningkatkan eskalasi konflik dengan mengancam akan menghancurkan sejumlah jembatan strategis di Lebanon selatan. Langkah ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk mengisolasi wilayah tersebut dari bagian lain negara.
Dalam pernyataan resminya, juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, mengungkap rencana pengeboman terhadap jembatan Sohmor dan Mashghara yang melintasi Sungai Litani di Lembah Bekaa bagian barat. Israel menuduh jembatan tersebut dimanfaatkan oleh kelompok bersenjata Hezbollah.
Padahal, kedua jembatan itu merupakan jalur utama distribusi barang dan mobilitas masyarakat. Jika dihancurkan, dampaknya akan sangat besar.
“Ini adalah urat nadi utama bagi pergerakan warga dan logistik. Jika dihancurkan, Bekaa barat akan benar-benar terisolasi,” lapor jurnalis Aljazeera di lapangan.
Tak hanya menghambat mobilitas, kehancuran jembatan juga akan mempersulit akses masyarakat menuju pusat ekonomi di Chtoura, serta layanan vital seperti rumah sakit dan fasilitas publik lainnya.
Sejak awal Maret, serangan Israel dilaporkan telah menghancurkan sedikitnya enam jembatan lain di sepanjang Sungai Litani. Serangan terhadap infrastruktur sipil ini menuai kecaman luas dari berbagai pihak, termasuk organisasi hak asasi manusia internasional.
Mereka menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar hukum humaniter internasional karena secara langsung berdampak pada kehidupan warga sipil.
Di sisi lain, invasi darat Israel yang semakin meluas juga menimbulkan ketakutan baru. Laporan menyebutkan puluhan rumah warga di Lebanon selatan terancam dihancurkan dalam operasi militer tersebut.
Tak hanya infrastruktur transportasi, serangan juga merusak fasilitas air bersih. Lembaga Air Lebanon Selatan melaporkan kerusakan signifikan di sejumlah instalasi penting, termasuk di wilayah Ibl al-Saqi dan al-Maysat.
“Penargetan fasilitas vital seperti air merupakan pelanggaran serius terhadap norma internasional,” tegas pernyataan resmi otoritas setempat.
Korban jiwa terus bertambah. Sedikitnya empat orang dilaporkan tewas dalam serangan terbaru, termasuk warga sipil yang menjadi korban saat keluar dari masjid di wilayah Bekaa barat.
Secara keseluruhan, konflik yang memanas sejak 2 Maret ini telah memaksa lebih dari 1,2 juta orang mengungsi. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 1.345 orang tewas dan lebih dari 4.000 lainnya terluka.
Situasi semakin kompleks setelah korban juga jatuh dari pasukan penjaga perdamaian PBB. Dalam insiden terbaru, tiga personel UNIFIL terluka akibat ledakan di dekat perbatasan Lebanon-Israel.
Hingga kini, sumber ledakan tersebut masih belum diketahui. PBB pun mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menjamin keselamatan pasukan penjaga perdamaian di wilayah konflik.
Dengan ancaman penghancuran infrastruktur vital yang terus berlanjut, krisis di Lebanon kian mengkhawatirkan. Jika eskalasi tidak segera dihentikan, dampaknya bukan hanya meluas secara militer, tetapi juga memicu krisis kemanusiaan yang lebih dalam. (*)






