GAZA – Serangan Israel di Gaza kembali menelan puluhan korban jiwa. Sedikitnya 62 warga Palestina dilaporkan tewas dalam rangkaian serangan terbaru, termasuk warga yang tengah menunggu bantuan kemanusiaan di lokasi distribusi.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut ratusan warga sipil juga menjadi korban di sekitar titik distribusi bantuan sejak Gaza Humanitarian Foundation (GHF) mulai beroperasi.
Sumber medis kepada Al Jazeera melaporkan serangan Israel terjadi di sejumlah wilayah Gaza pada Kamis waktu setempat.
Otoritas kesehatan setempat mengungkapkan, sedikitnya 15 orang tewas dalam dua serangan udara di Gaza City. Sembilan korban di antaranya tewas di sebuah sekolah yang menampung keluarga pengungsi di kawasan Sheikh Radwan.
Serangan terpisah juga menghantam perkemahan tenda pengungsi di Khan Younis, Gaza selatan, yang menewaskan sembilan orang. Sementara itu, serangan pesawat nirawak di jalan pasar Deir el-Balah menyebabkan korban tewas dan luka.
Secara keseluruhan, sedikitnya 62 orang dilaporkan tewas akibat serangan Israel dalam sehari.
Warga Tewas Saat Antre Bantuan
Palestinian Red Crescent Society melaporkan tiga warga Palestina tewas dan sejumlah lainnya terluka akibat tembakan tentara Israel saat menunggu bantuan kemanusiaan di titik distribusi Koridor Netzarim, Gaza tengah.
Insiden ini menambah panjang daftar korban di lokasi distribusi bantuan yang dikelola GHF—lembaga yang didukung Amerika Serikat dan Israel namun menuai kritik internasional.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sedikitnya 549 warga Palestina tewas saat mencoba mendapatkan makanan dari lokasi distribusi sejak GHF mulai beroperasi pada 27 Mei. Selain itu, 4.066 orang terluka dan 39 warga sipil dilaporkan hilang.
Lembaga kemanusiaan Save the Children mengungkapkan lebih dari separuh korban dalam serangan di sekitar lokasi bantuan adalah anak-anak. Dari 19 insiden mematikan yang tercatat, anak-anak menjadi korban dalam 10 kejadian.
Direktur regional Save the Children untuk Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa Timur, Ahmad Alhendawi, menyebut warga kini takut mendatangi lokasi bantuan.
“Tidak ada yang ingin mengambil bantuan dari titik distribusi tersebut. Orang-orang takut terbunuh,” ujarnya.
Bantuan Dikritik, Israel Diminta Hentikan Pasokan
Program distribusi bantuan GHF menuai kritik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai organisasi kemanusiaan internasional karena dinilai tidak mampu menjangkau kebutuhan warga Gaza.
GHF mengambil alih distribusi bantuan pada Mei lalu setelah Israel mendapat tekanan internasional terkait blokade total selama berbulan-bulan terhadap masuknya bantuan ke Gaza yang memicu ancaman kelaparan massal. Meski bantuan kini mulai masuk, kondisi kemanusiaan disebut masih sangat buruk.
Bahkan, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menyerukan penghentian total bantuan ke Gaza.
Ia menyatakan bantuan yang masuk saat ini merupakan “aib besar” dan menilai pasokan tersebut harus dihentikan sepenuhnya.
Gaza Terancam Krisis Air dan Kekeringan
Di sisi lain, badan PBB untuk pengungsi Palestina UNRWA memperingatkan warga Gaza kini menghadapi ancaman krisis air serius.
Badan tersebut menyebut hanya sekitar 40 persen fasilitas produksi air minum yang masih beroperasi. Kekurangan bahan bakar, kerusakan pipa, serta sulitnya akses ke sumber air membuat Gaza berada di ambang “kekeringan buatan manusia”.
Di tengah konflik yang terus memanas, mediator Arab yaitu Mesir dan Qatar dengan dukungan Amerika Serikat kembali mencoba memfasilitasi perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Namun hingga kini belum ada jadwal pasti untuk perundingan baru.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perang hanya akan berakhir jika Hamas membebaskan seluruh sandera, menyerahkan kekuasaan, dan melucuti senjata.
Sebaliknya, Hamas menyatakan siap membebaskan sandera jika Israel menyetujui gencatan senjata permanen dan menarik seluruh pasukannya dari Gaza, namun menolak membahas pelucutan senjata.(*)






