JAKARTA – Kapal tanker milik Pertamina, VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di Selat Hormuz. Akibatnya, cadangan energi nasional mulai terancam.
“Hal ini terjadi karena sebagian sumber penyediaan minyak mentah dan produk kilang terdampak oleh terganggunya jalur Selat Hormuz,” ungkap Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) unsur konsumen, Muhammad Kholid Syeirazi, seperti dilansir NU Online, Kamis (9/4/2026).
Sebagian impor minyak mentah Indonesia, berasal dari Arab Saudi yang harus melewati Selat Hormuz. Kemudian pasokan gas minyak cair (LPG) juga sangat bergantung pada jalur tersebut.
“Sekitar 18 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Arab Saudi yang harus melewati Selat Hormuz. Selain itu, sekitar 25 persen pasokan LPG juga terdampak oleh jalur tersebut,” katanya.
Kapal tanker milik Pertamina dengan muatan sekitar empat juta barel yang masih tertahan hingga saat ini juga berdampak pada badan usaha lain yang mengimpor produk kilang dari Singapura, Malaysia, dan negara lain yang sumber pasokannya berasal dari Timur Tengah. Apabila Selat Hormuz kembali dibuka, maka akan meningkatkan jumlah hari cadangan operasional yang dibutuhkan untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Dalam pandangan akademisi Hubungan Internasional dari Universitas Bina Nusantara, Tia Mariatul Kibtiah, sistem diplomasi Indonesia perlu dievaluasi, khususnya dalam konteks hubungan dengan Iran. “Artinya harus di-review dari sistem diplomasi kita, kalau tidak mau dibilang gagal,” katanya.
Dalam Diskusi Pojok Kramat edisi Harlah ke-41 Lakpesdam PBNU dan Halal Bihalal di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026), ia menyebut, para menteri luar negeri sebelumnya seperti Ali Alatas, Alwi Shihab, Hassan Wirajuda, Marty Natalegawa, hingga Retno Marsudi memiliki rekam jejak diplomasi yang kuat.
Ia menegaskan bahwa tidak ada sejarah mentok dalam diplomasi. Para menteri luar negeri sebelumnya memiliki kemampuan yang mumpuni. “Tapi kenapa sekarang tidak? Dalam berbagai hal, kebijakan luar negeri kita seperti menemui jalan buntu,” ujarnya. ***






