YOGYAKARTA – Fenomena kehidupan saat ini yang serba cepat dinilai mendorong Manusia Modern memiliki keinginan instan dalam meraih segala hal. Namun, sikap tersebut justru berpotensi menjerumuskan pada jalan pintas yang bertentangan dengan nilai agama, hukum, dan kemanusiaan.
Hal itu disampaikan Sekretaris Umum Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam program Jendela Ramadan di TvMu Channel, Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, gaya hidup serba instan membuat sebagian orang memilih jalan pintas demi mencapai tujuan secara cepat.
“Jalan pintas itu sebagiannya adalah cara-cara yang dilakukan bertentangan dengan agama, bertentangan dengan hukum, dan juga bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan yang kita miliki,” ujarnya.
Abdul Mu’ti menekankan pentingnya nilai kesabaran dalam kehidupan, yang juga tercermin dalam ibadah puasa (ash-shiyam). Puasa mengajarkan manusia untuk menahan diri, meskipun memiliki kesempatan untuk memenuhi keinginan.
“Ada makanan yang halal dan baik, tetapi karena belum waktunya berbuka maka kita tidak makan. Ini butuh kesabaran dan kemampuan menahan diri,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kesabaran memberikan pelajaran penting bahwa tidak semua hal dapat diraih secara mudah dan instan. Dibutuhkan kekuatan mental dan spiritual untuk melalui setiap proses kehidupan.
“Sabar memberikan kesadaran bahwa sesuatu bisa terjadi memerlukan waktu yang lama, dan sering kali hasil adalah akhir dari sebuah proses,” tambahnya.
Menurut Abdul Mu’ti, kesabaran juga melatih manusia untuk konsisten dan persisten dalam menjalani kehidupan.
Konsistensi, katanya, merupakan kesadaran untuk terus melakukan sesuatu meski hasilnya belum terlihat. Sementara itu, persistensi berarti keteguhan untuk tetap berada di jalan kebenaran.
Ia mengutip adagium Jawa, “Ojo nggege mongso”, yang berarti jangan memaksakan kehendak atau mendahului waktu.
“Kalau sesuatu belum waktunya, sabar saja. Karena semua berproses,” tegasnya.
Abdul Mu’ti juga mengutip pemikiran Paul Arden dalam buku It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want to Be yang menekankan pentingnya proses dalam meraih kesuksesan.
Menurutnya, setiap tahapan dalam mencapai cita-cita merupakan bagian penting dari perjalanan menuju keberhasilan.
“Prosesnya butuh waktu. Bukan soal kita sudah sebagus apa sekarang, tetapi soal kehendak baik yang terus dilakukan hingga mencapai hasil yang diharapkan,” pungkasnya.
Pesan tentang kesabaran dan pentingnya proses ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak terjebak pola pikir instan, terutama dalam menjalani kehidupan dan meraih kesuksesan.(*)






