SYIARISLAM.COM, YOGYAKARTA — Seni tradisional tidak hanya menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk membangun karakter dan memperkuat hubungan sosial. Pendekatan ini diterapkan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Yogyakarta melalui pelatihan karawitan dan ketoprak bagi klien pemasyarakatan.
Kegiatan bertajuk “Gema Laras Karsa Berdaya” tersebut digelar di Griya Abhipraya Purbonegoro, Jalan Pangurakan Nomor 1, Yogyakarta, Kamis (29/10/2026). Pelatihan ini diarahkan untuk menumbuhkan kedisiplinan, kepekaan rasa, kerja sama, serta nilai-nilai budi pekerti melalui pendekatan berbasis kearifan lokal.
Kepala Bapas Kelas I Yogyakarta, Galih Rakasiwi, mengatakan penggunaan seni tradisional dalam pembinaan merupakan salah satu cara untuk membangun karakter klien pemasyarakatan melalui pendekatan yang lebih humanis.
“Melalui media seni karawitan dan ketoprak kolaboratif, Klien Pemasyarakatan dibimbing secara mendalam untuk mengasah kepekaan rasa, kedisiplinan, kerja sama kelompok, serta penanaman nilai-nilai budi pekerti luhur,” ungkap Galih.
Rangkaian kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB itu diawali dengan pelatihan karawitan yang melibatkan SD Pangudi Luhur (PL). Acara kemudian dilanjutkan dengan pementasan ketoprak oleh Sanggar Sekar Kemuning.
Pementasan tersebut menghadirkan kolaborasi antara seniman, pegawai Bapas, dan klien pemasyarakatan. Para pegawai Bapas turut tampil bersama klien di atas panggung, menciptakan ruang interaksi yang lebih terbuka di luar kegiatan pendampingan formal.
Menurut Galih, keterlibatan petugas dalam pementasan itu sengaja dirancang untuk membangun kedekatan dengan klien. Hubungan yang lebih terbuka diharapkan dapat mendukung proses pembimbingan agar berjalan lebih efektif.
“Keterlibatan langsung jajaran petugas Bapas dalam pementasan seni ini bukan tanpa alasan. Hal tersebut sengaja dirancang untuk membangun kedekatan persuasif dan mengikis sekat antara pembimbing kemasyarakatan dengan klien, sehingga proses pendampingan ke depan dapat berjalan lebih menyentuh hati dan efektif,” kata Galih.
Selain menjadi sarana pembinaan karakter, kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya melestarikan kebudayaan Yogyakarta. Karawitan dan ketoprak dipilih sebagai media untuk mengenalkan nilai-nilai budaya lokal sekaligus menumbuhkan sikap positif dalam kehidupan bermasyarakat.
Perwakilan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta turut menghadiri kegiatan tersebut dan memberikan apresiasi terhadap inisiatif Bapas Yogyakarta dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam program reintegrasi sosial.
Melalui program “Gema Laras Karsa Berdaya”, Bapas Kelas I Yogyakarta berupaya menghadirkan pembimbingan yang tidak hanya berorientasi pada kedisiplinan, tetapi juga penguatan karakter, kepekaan sosial, dan kemampuan membangun hubungan yang positif.
Pemanfaatan seni tradisional dalam pembinaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung proses reintegrasi sosial klien pemasyarakatan.(*)






