PANGALENGAN – Aktivitas gempa swarm mengguncang kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dalam dua hari terakhir. Hingga Kamis (17/9/2026) pukul 07.00 WIB, BMKG mencatat 47 kejadian gempa, beberapa di antaranya dirasakan masyarakat.
Rangkaian gempa tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah aktivitas gempa swarm di Pangalengan menjadi pertanda akan terjadi gempa besar di Bandung?
Ahli dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan aktivitas gempa swarm tidak bisa dijadikan patokan pasti bahwa gempa berkekuatan besar akan segera terjadi.
“Swarm tidak selalu berarti gempa akan terus membesar. Sebagian rangkaian swarm dapat mereda secara bertahap,” kata Daryono di Bandung, Kamis.
Gempa swarm merupakan rangkaian gempa yang terjadi berulang di suatu kawasan dalam periode tertentu tanpa adanya satu gempa utama atau mainshock yang mendominasi rangkaian tersebut.
Menurut Daryono, kemunculan swarm menunjukkan adanya aktivitas deformasi dan pelepasan tegangan di kerak bumi. Namun, fenomena itu dapat berkaitan dengan sejumlah proses, termasuk pergeseran sesar, aktivitas vulkanik, maupun aktivitas hidrotermal.
“Pola swarm harus dibaca berdasarkan data seismologi secara terus-menerus, bukan berdasarkan jumlah gempa semata,” ujarnya.
Pangalengan berada di wilayah Jawa Barat bagian selatan yang memiliki kondisi deformasi kerak bumi cukup kompleks. Kawasan ini juga berdekatan dengan sistem Sesar Garsela atau Garut Selatan, salah satu struktur sesar aktif di Jawa Barat.
Daryono menjelaskan, gempa dengan sumber dangkal dapat menimbulkan guncangan yang cukup terasa meskipun magnitudonya relatif kecil. Kondisi geologi setempat turut memengaruhi seberapa kuat getaran dirasakan masyarakat.
Data BMKG menunjukkan salah satu gempa yang dirasakan terjadi pada Kamis (17/9/2026) pukul 06.21 WIB. Gempa berkekuatan magnitudo 2,7 itu berpusat di darat, sekitar 27 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung, dengan kedalaman 4 kilometer.
Getaran gempa tersebut dirasakan dengan intensitas III MMI di Pangalengan, Talegong, dan Cisewu. BMKG menyebut getaran terasa nyata di dalam rumah, seperti sensasi ketika truk melintas. Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada laporan kerusakan bangunan.
Sebelumnya, pada pukul 04.59 WIB, gempa magnitudo 2,6 juga tercatat berpusat di darat sekitar 23 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung dengan kedalaman 3 kilometer. Gempa tersebut dirasakan di Pangalengan dan Kertasari dengan intensitas III MMI.
Plt Kepala BBMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati mengatakan rangkaian gempa di wilayah tersebut merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas sesar aktif.
“Sejak tanggal 16 September 2026 hingga tanggal 17 September pukul 07:00 WIB, tercatat sebanyak 47 kejadian gempa bumi,” kata Ana melalui keterangan resmi, Kamis.
Menurut Ana, hasil pemantauan BMKG menunjukkan adanya aktivitas seismik berupa rangkaian gempa bumi di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Dalam pembaruan yang lebih luas, BMKG mencatat 118 aktivitas gempa bumi di Kabupaten Bandung dan sekitarnya sepanjang 11 Agustus hingga 17 September 2026 pukul 08.00 WIB. Magnitudo gempa berada pada kisaran 1,0 hingga 3,4, dengan 13 kejadian dirasakan masyarakat.
BMKG menyebut pusat-pusat gempa tersebut membentuk pola kelurusan barat daya-timur laut dan berada sekitar 5-8 kilometer di sebelah barat Sesar Garsela Segmen Kendang serta sebelah utara Sesar Garsela Segmen Kencana. Analisis BMKG menyatakan rangkaian tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar lokal.
Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat memastikan belum menerima laporan kerusakan akibat rangkaian gempa tersebut.
“Kami pantau terus, namun sampai sekarang belum ada laporan masuk terdampak,” kata Pranata Humas Ahli BPBD Jabar Hadi Rahmat, Kamis.
Hadi mengatakan pemantauan dilakukan secara berjenjang melalui BPBD Kabupaten Bandung dan aparat kewilayahan. Menurut dia, belum adanya laporan kerusakan salah satunya berkaitan dengan magnitudo gempa yang relatif kecil.
“Tim BPBD Kabupaten Bandung yang memantau, informasinya berjenjang dari aparat kewilayahan,” ujarnya.
Daryono mengingatkan masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap meningkatkan kesiapsiagaan. Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain memeriksa kondisi bangunan, mengamankan perabot yang berpotensi jatuh, serta memahami prosedur keselamatan saat gempa, seperti drop, cover, and hold on.
“Karena itu, masyarakat tidak perlu mengaitkan setiap peningkatan aktivitas gempa swarm dengan kemungkinan terjadinya gempa besar. Yang terpenting adalah tetap waspada dan mengikuti informasi resmi,” katanya.
Selain guncangan gempa, masyarakat di kawasan Pangalengan dan sekitarnya juga diminta memperhatikan potensi bahaya sekunder, terutama longsor.
BMKG mengimbau masyarakat memperoleh informasi mengenai perkembangan aktivitas gempa hanya dari kanal resmi dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Dengan demikian, rangkaian gempa swarm di Pangalengan perlu dipantau berdasarkan perkembangan data seismologi, bukan semata-mata dari jumlah kejadian gempa. Hingga pembaruan BMKG terakhir, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa rangkaian tersebut merupakan pertanda pasti akan terjadi gempa besar. (*)






