Berita  

Tradisi Takjil Masjid Jogokariyan: Disajikan dengan Piring, Jaga Esensi Berbuka dan Kebersamaan di Yogyakarta

Tradisi takjil piring di Masjid Jogokariyan Yogyakarta jaga esensi berbuka, kebersamaan jamaah, dan nilai spiritual Ramadhan. (Foto: Pemkot Jogja)

YOGYAKARTA – Memasuki bulan suci Ramadhan, suasana di kawasan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, terasa semakin hidup. Langkah-langkah jamaah yang berdatangan menuju Masjid Jogokariyan menjadi pemandangan khas setiap sore menjelang maghrib. Di tempat inilah, tradisi pembagian takjil yang sarat makna kembali dihidupkan—bukan sekadar berbagi makanan, tetapi merawat nilai kebersamaan dan spiritualitas.

Di tengah tren pembagian takjil serba praktis menggunakan nasi kotak atau kemasan styrofoam, Masjid Jogokariyan tetap mempertahankan tradisi unik: hidangan berbuka disajikan menggunakan piring. Pilihan sederhana ini ternyata menyimpan filosofi mendalam yang telah dijaga selama bertahun-tahun.

Bagi pengurus masjid, penggunaan piring bukan sekadar soal penyajian, melainkan upaya menjaga esensi takjil sebagai santapan berbuka puasa yang dinikmati tepat pada waktunya.

Pengurus Masjid Jogokariyan, Ustaz Syubban Rizali, menuturkan bahwa tradisi ini bertujuan agar takjil tidak bergeser fungsi menjadi sekadar makanan untuk makan malam.

“Biar tidak sekadar jadi makan malam,” ujarnya dalam edukasi yang diunggah melalui akun Instagram Instagram @marbot.aplikasi, Rabu (25/2/2026).

Menjaga Niat Berbagi dan Keutamaan Berbuka

Menurut Syubban, penyajian dalam bentuk nasi kotak sering membuat makanan tidak langsung disantap saat adzan maghrib. Sebagian orang memilih membawanya pulang untuk dimakan di rumah. Kondisi ini dinilai kurang sejalan dengan harapan para donatur yang ingin mendapatkan pahala dari memberi makan orang yang berbuka puasa tepat pada waktunya.

Dalam ajaran Islam, memberi makan orang yang berpuasa memiliki keutamaan besar. Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Tirmidzi menyebutkan bahwa siapa yang memberi makan orang berpuasa akan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.

Karena itu, penyajian takjil menggunakan piring menjadi cara untuk menjaga niat berbagi sekaligus memastikan hidangan benar-benar dinikmati saat waktu berbuka tiba.

Menghidupkan Kebersamaan Tanpa Sekat

Lebih dari sekadar tradisi, penggunaan piring juga menghadirkan pengalaman berbuka yang hangat dan humanis. Jamaah duduk berdampingan, menikmati hidangan bersama, dan menyegerakan berbuka sesuai sunnah Rasulullah SAW.

Tanpa sekat dan tanpa jarak, suasana kebersamaan terbangun secara alami. Senyum yang saling bertukar, percakapan ringan, hingga doa yang terlantun bersama menjadikan momen berbuka terasa lebih bermakna.

Di ruang sederhana masjid, piring-piring yang tertata rapi seolah menjadi simbol persaudaraan. Tradisi ini bukan hanya tentang makanan yang tersaji, tetapi juga tentang nilai kebersamaan yang dirawat dari waktu ke waktu.

Lebih dari Sekadar Berbagi Takjil

Dengan tetap mempertahankan penyajian takjil menggunakan piring, Masjid Jogokariyan tidak hanya membagikan hidangan berbuka. Masjid ini juga menjaga nilai spiritual, memperkuat ukhuwah antarjamaah, serta menghadirkan kembali esensi Ramadhan sebagai momentum berbagi dan kebersamaan.

Di tengah modernitas yang serba praktis, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kehangatan Ramadhan tak hanya terletak pada apa yang disantap, tetapi juga pada kebersamaan yang tercipta saat berbuka bersama.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *