Berita  

Wabah Ebola di RD Kongo Tewaskan 1.707 Orang, WHO Percepat Uji Obat dan Vaksin Eksperimental

Ilustrasi: WHO mempercepat uji obat dan vaksin Ebola setelah korban tewas di RD Kongo mencapai 1.707 orang. (Foto: Istimewa)

KINSHASA, RD Kongo – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mempercepat uji klinis obat, vaksin, dan terapi eksperimental untuk menangani wabah Ebola yang terus meluas di Republik Demokratik (RD) Kongo. Hingga kini, wabah tersebut telah merenggut 1.707 korban jiwa dari 3.802 kasus yang tercatat sejak dinyatakan sebagai wabah pada 15 Mei 2026.

Data terbaru pemerintah RD Kongo menunjukkan wabah yang dipicu oleh strain Bundibugyo telah menjadi wabah Ebola terbesar kedua dalam sejarah sekaligus yang mengalami pertumbuhan tercepat. Berbeda dengan jenis Ebola lainnya, hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun pengobatan yang telah disetujui secara resmi untuk varian Bundibugyo.

WHO mencatat lebih dari 17.000 orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien kini berada dalam pemantauan. Sekitar 80 persen di antaranya berhasil dipantau setiap hari sebagai bagian dari upaya memutus rantai penularan.

Pelaksana Tugas Kepala Program R&D Blueprint WHO, Vasee Moorthy, mengatakan kesiapan penelitian selama beberapa tahun terakhir memungkinkan uji klinis dimulai jauh lebih cepat dibandingkan wabah Ebola sebelumnya.

“Jika dibandingkan dengan wabah Ebola sebelumnya, kami dapat memulai uji klinis lebih cepat. Data praklinis yang kami lihat sejauh ini cukup menjanjikan,” kata Moorthy dalam konferensi pers di Jenewa, Selasa (4/8).

Meski demikian, ia menegaskan efektivitas obat maupun vaksin eksperimental hanya dapat dipastikan melalui hasil uji klinis yang masih berlangsung.

Fokus Wabah Berada di Provinsi Ituri

Wabah Ebola saat ini terkonsentrasi di Provinsi Ituri, wilayah timur RD Kongo yang menyumbang hampir 90 persen dari seluruh kasus yang dilaporkan.

Namun penyebaran virus tidak lagi terbatas di wilayah tersebut. Kasus infeksi kini telah terkonfirmasi di lima provinsi lain, termasuk Kisangani, salah satu kota terbesar di negara itu.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dijadwalkan mengunjungi ibu kota Kinshasa sebelum melanjutkan perjalanan ke Bunia, kota yang menjadi pusat penanganan wabah.

Sementara itu, Direktur Jenderal Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC), Jean Kaseya, yang juga berada di Bunia, mengatakan hingga kini belum dapat dipastikan kapan wabah akan mencapai puncaknya.

Lebih dari 100 Tenaga Kesehatan Terinfeksi

WHO mengungkapkan lebih dari 100 tenaga kesehatan telah tertular Ebola sejak wabah dimulai.

Proses penanganan wabah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari lambatnya pelacakan kontak, konflik bersenjata di sejumlah wilayah, serangan terhadap fasilitas kesehatan, sulitnya menjangkau komunitas terdampak, hingga rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan.

Selain itu, keterbatasan pendanaan akibat pemangkasan bantuan internasional turut memperberat upaya pengendalian wabah.

Tekanan terhadap sistem kesehatan juga memicu aksi protes tenaga medis. Pada Senin (3/8), petugas kesehatan di Kota Mongbwalu mengancam memperluas aksi mogok kerja apabila gaji yang tertunggak tidak dibayarkan dalam waktu 24 jam.

Sebelumnya, tenaga kesehatan di Bunia juga sempat melakukan aksi serupa karena keterlambatan pembayaran gaji dan kondisi kerja yang dinilai berisiko tinggi.

Penyebaran Lebih Cepat Dibanding Wabah Sebelumnya

WHO menilai wabah Ebola kali ini menyebar jauh lebih cepat dibanding epidemi sebelumnya.

Sebagai perbandingan, pada wabah Ebola Afrika Barat periode 2014–2016 yang menginfeksi sekitar 28.000 orang dan menewaskan lebih dari 11.000 jiwa, dibutuhkan waktu sekitar delapan bulan hingga jumlah korban meninggal mencapai 1.000 orang.

Di sisi lain, negara tetangga, Uganda, telah menyatakan bebas Ebola sejak pertengahan Juni 2026 setelah pasien terakhir dinyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *